Gunung Marapi
Gunung Marapi adalah gunung yang pertama kali gue daki selama hidup, ntah kenapa pada saat itu mau aja di ajak oleh sohib gue untuk mendaki, padahal dikeluarga gue sendiri tidak ada yang hobi mendaki gunung, dan tidak ada yang pernah, dan tidak akan pernah diizinkan.
Banyak cerita indahnya ketika pendakian pertama yang gue dapatkan, mulai dari candaan, tawa, kawan baru dan pemandangan yang indah yang sebelumnya tidak pernah gue dapatkan. Dari sana baru gue sadari kenapa ada orang yang hobi mendaki gunung, yang mugkin akan memakan waktu lebih dari seharian, dan menghasilkan rasa capek di badan, serta membuat tubuhnya menjadi sensara. Tapi mereka tetap rela melakukan itu.
Akan tetapi ketika sudah sampai di atas Gunung, semua rasa capek itu, terbalaskan!
Gunung Marapi yang terletak di Kab Tanah Datar, kalau kita mau ke sana bisa mulai memasuki jalan dari Koto baru, Padang Panjang, kalau perjalanan dari Padang tepat simpang sebelah kanan sebelum MAN Koto Baru, tapi kalau berjalan dari arah Bukittinggi tepat simpang sebelah kiri setelah MAN Koto Baru.
Biasanya, para pendaki akan ramai mendaki pada saat hari-hari tertentu seperti 17 Agustus, malam tahun baru, atau tanggal-tanggal tertentu. Tujuannya untuk mencari suasana dan moment-moment indah bersama sahabat karib, keluarga, ataupun pacar kalau punya, kalau tidak jangan ngaku punya, atau pinjam pacar orang, TIDAK BOLEH. hehehe. Tetapi ada juga pendaki yang mendaki pada hari-hari biasa, tergantung kemauan pendaki juga sih.
Pendakian pertama, gue hanya membawa ransel kecil (ransel untuk pergi sekolah) yang berisi baju jaket dan mie instan serta makanan ringan yang lainnya, karena gue tidak tau apa saja yang akan di bawa untuk mendaki, teman-teman cuman mengatakan itu saja yang perlu gue bawa. yaa gue cuman membawa itu saja. di perjalana para pendaki membawa ransel yang besar dan barang-barang yang lain, nah gue hanya diam.
Tepat pukul 15;00 sore, kita berangkat dari Biaro menuju Koto Baru dengan transportasi umum yang disebut dengan Tranek. Waktu itu cuman membayar Rp. 10.000 satu orangnya. ketika kita nyampe di Koto Baru, kita langsung menuju mesjid untuk siap-siap sholat magrib. Kelar sholat, kita langsung menuju simpang pertama pendakian bersama teman-teman yang lainnya. Pada saat itu rame banget yang mendaki. Jadi bukan rombongan kita saja, bahkan ada yang dari luar kota, dan Provinsi.
Uniknya, selama diperjalanan menuju puncak, para pendaki ada panggilan khusus, yaitu Pak dan Ibuk, mau itu anak-anak, remaja ataupun dewasa tetap dipanggil dengan panggilan Bapak dan Ibuk. Eiiits tunggu dulu, sebelum memulai pendakian kita membayar biaya administrasi dulu ke posko pertama, tujuannya untuk pemeriksaan kelengkapan dan memastikan jumlah anggota yang dibawa berapa, serta pemberitahuan untuk tetap menjaga kebersihan di atas gunung, tidak boleh membuang sampah sembarangan, kalau sudah turun ke bawah sampah harus dibawa kebawah lagi dan diperlihatkan ke posko pertama.
Rombongan kita, mulai melakukan pendakian pada malam hari, karena menurut mereka kalau memulai pendakian di malam hari tidak terlalu terasa capeknya, dan banyak hal lainnya. Selama di perjalanan kita sering berhenti hehehe karena kita juga mementingkan keselamatan kelompok, lebih lagi di rombongan kita juga terdapat tiga orang wanita yaitu Ain, Eneng dan Noni.
Selama perjalannya juga gue sering mengusili sohib gue, yaitu Ain, dengan beberapa kali bertanya, "sob kotor ngga pantat gue?" sambil memberika bokong gue di hadapan dia. wkwk anehnya dia malah merespon "ngga sob" ya sudah gue ketagihan untuk bertanya terus kalau misalnya gue terjatuh saat pendakian atau setelah duduk disalah satu tempat ketika setelah istirahat.

| Ini kita team pendaki yang bernama Cazava Adventa |
Nih gue cerita dikit, kita pergi mendaki gunung mengeluarkan biaya bukan? karena kita juga sekumpulan anak SMA ya mungkin bisa jadi di izinin orang tua bisa jadi juga tidak, nah uang belanja kan pas pasan, kita mikir gimana bisa mendapatkan uang untuk bisa mendaki gunung, alhasil kita menjual Ubi goreng yang kita beri bumbu bbq dan balado. Kita jualin di kelas-kelas, ketika jam istirahat. Emang tidak ada malunya kita saat itu. Dan Alhamdilillah apa yang kita jual, semuanya laris manis, walaupun tidak banyak pendapatannya, tetapi kita berhasil mengumpulkan uang tambahan untuk pergi mendaki gunung ataupun pergi main ke tempat yang lain.
Ubi yang kita jual itu berasal dari kebunnya Eneng, dan memasaknya juga di rumah Eneng, tentunya di izinin Bunda dan Ayah eneng, thankyou Ayah, bunda dan Eneng.
Ngga asik kalau gue tidak menceritakan sedikit tentang mereka, sekumpulan kecil manusia langka yang pernah ada. mulai dari yang pertama
The only one sohib gue sedari ponpes yaitu Siti Nur'ain alias Manohara yang kerap di panggil dengan panggilan Ain. Orang yang super kuat yang pernah gue kenal, kuat mental dan fisiknya, gue bersyukur banget bisa kenal dengan sosok dia, yang selalu memberikan canda, tawa dan kecerian, selalu memberi hal-hal yang unik kepada temannya, nasihat motivasi bahkan cerita-cerita kocak yang diceritkan dari imajinasinya. Sob! i'm so proud of you. gue tau di balik kebahagian yang ia berikan ke kita semua ada cerita luka yang di tutupinya, salut banget sama dia, can't describ!
Kedua, Noni Erlina yang kerap di panggil dengan sebutan cinoik wanita yang lemah lembut parasnya dan perasaanya, memiliki suara yang indah tapi tidak percaya diri dengan itu semua. Yang selalu over thinking to everyone, but we know she is the honest person, memiliki jiwa pertemanan yang tulus dan baik banget! non jan kicekan juo Andre sombong yo non wkwkwk, yang selalu kalau ketemu pasti bilang "Andre ko sombong bana kini" padahal ketemupun kita kalau di sekolah selalu saling sapa dan lain-lain tapi tetap di judge sombong oleh dia.
Ketiga, Noor Kumala Sari, yang sering kita panggil dengan sebutan Eneng, she is the strong women too, but suka memendam sesuatu di dalam hatinya, tidak mau mengungkapkan, tapi kocaknya juga luar biasa, kalau sudah ngomong pasti susah untuk berhenti, memiliki keunikan tersendiri pada dirinya. Hobi bernyanyi lagu-lagu barat, duet dengan Fiqri, dan juga salah seorang yang hobi menjaili si Fiqri. Eneng sesuai panggilannya memiliki jiwa ke neng-nengan wkwkwk. keep it neng!
The last one, the handsome men, he said. but it can be proved by someone, we don't know who? hahaha seseorang yang super kocak pemikirannya dan imajinasinya. Yang paling hobi dengan sifat pengambok, kalau sudah ngambok semua orang tidak akan di ajaknya berbicara, disanalah turun ain atau eneng yang akan mencoba membujuk dan berbicara kepadanya hahaha. tapi dia selalu perhatian dengan kita, orang yang selalu memperhatikan teman-temannya dan memberikan good advice ketika temannya membutuhkan. bro keep it, and do it to your self too.
Guys, Ain, Eneng, Noni, Fiqri, Arista kapan nanjak bareng lagi?
hehehe sekian dulu cerita mendaki gunung merapi gue, next bakal ada lagi cerita menarik dari pendakian Singgalang.
Terimakasih sudah mau membacaa.
See you in the next Blog!





Tidak ada komentar :
Posting Komentar